Google+ Badge

Rabu, 30 April 2014

Kisah Sepasang Tuna Netra Menghidupi Keluarga

Bersama : Asep Suryana dan Putro Hadi Gumilar
Kisah Sepasang Tuna Netra Menghidupi Keluarga
Reporter : ods/bam

BERITABEKASI.CO,Kota Bekasi - Bagi warga di kawasan Jatiasih mungkin sudah tidak asing lagi dengan sosok sepasang suami istri yang berjualan kerupuk yang biasa berkeliling di Perumahan Pemda. Agus (50), dan Sarinah (35), bukan penjual kerupuk keliling biasa, dia adalah sepasang Tuna Netra. Di Kota Bekasi, dia tinggal bersama ke tiga anaknya di Jalan Sadewa no 28 blok B Komplek Pemda. Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat  meski memiliki keterbatasan fisik, namun dia enggan hidup dari belas kasihan orang lain. Mereka, berusaha menghidupi ketiga buah hatinya dengan berjualan kerupuk keliling, mengitari komplek-komplek yang berada di sekitar tempat tinggalnya, Minggu (29/9/2013). 
http://beritabekasi.co/fileuploadmaster/663020tuna%20Netra.jpg
http://beritabekasi.co/gambar/spacer.gif
Sepasang Tuna Netra berjualan kerupuk keliling (Foto/ods)
http://beritabekasi.co/gambar/spacer.gif
Agus dan Sarinah mengaku, berjualan demi menghidupi ketiga putra-putrinya, setiap pagi mereka bekeliling komplek dengan berjalan kaki hingga jarak 5 Km yang mesti ditempuh. Mereka, dapat menjual kerupuk dalam sehari 40 hingga 50 bungkus kerupuk. Namun, sejak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu, yang berimbas pada kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok, membuat mendapatan mereka menurun drastis. Kini dalam sehari, mereka hanya mampuh menjual sekitar 20 bungkus dengan keuntungan bersih Rp20.000 hingga Rp30.000 perhari.
“Sudah dua tahun saya bersama istri berjualan kerupuk keliling disekitar komplek di Jatiasih,’’ katanya kepada beritabekasi.co, sembari melepas lelah seusai berkeliling menjajakan dagangannya disekitar komplek pemda.
Kondisi ini tak membuat Agus dan Sarinah menyesali nasib, namun mereka tetap bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan, karena dari hasil berjualan kerupuk ini ia mampuh menyekolahkan ketiga anak-anaknya, meski hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Saya hanya berharap ke tiga anak-anak saya kelak dapat hidup yang lebih baik dari pada orang tuannya yang hanya sebagai penjual kerupuk keliling,’’ ujarnya.
Sehari-hari, Pria asal Jawa tengah, ini ditemani sang istri berkeliling di sekitar komplek dekat-dekat rumahnya untuk menjajakan kerupuknya kepada warga. Ia mulai berkeliling dari pukul lapan hingga empat sore. Agus, terpaksa memilih berdagang kerupuk sesuai berhenti menjadi tukang pijat, kata dia, kerena kalah saing dengan panti pijat plus-plus yang marak di Kota Bekasi.
 “Ya kalau untuk sehari-hari enggak cukup, dirit-irit alhamdulillah saya bersyukur masi dapat menyekolahkan ketiga anak-anak saya dari pengahasilan berjualan kerupuk,’’ katanya.
Banyak suka duka yang dialami ke dua pasangan tuna netra, ini mulai dari para pembeli yang kadang kala membayar kurang hingga menabrak-nabrak saat berjalan kerena pada saat belum mengenal medan. Meskipun begitu, Agus dan Sarinah mengatakan masih banyak orang yang baik kepadanya. Mereka tetap menjalankan hidup sebagai pedagang kerupuk keliling.
“Ya suka dukanya pernah dialami, terkadang ada aja yang bayarnya kurang, tapi alhamdulillah, masih banyak orang yang baik suka kasih lebih diberikan ke saya uang kembaliannya,’’ tandasnya.
Opini
Secara etimologi kata tunanetra berasal dari tuna yang berarti rusak,netra berarti mata atau penglihatan. Jadi secara umum tuna netra berarti rusak penglihatan. Tunanetra berarti buta,tetapi buta belum tentu sama sekali gelap atau sama sekali tidak dapat melihat. Ada anak buta yang sama sekali tidak ada penglihatan,orang semacam ini biasanya disebut buta total. Disamping buta total, masih ada juga orang yang mempunyai sisa penglihatan tetapi tidak dapat dipergunakan untuk membaca dan menulis huruf biasa.
Mungkin kemampuan yang paling terpengaruh oleh ketunanetraan untuk berhasil dalam penyesuaian social individu tunanetra adalah kemampuan mobilitas yaitu ketrampilan untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya. Ketrampilan mobilitas ini sangat terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam lingkungan seperti yang di alami oleh sepasang tuna netra bapak Agus dan ibu Sarinah ini beliau perlu beberapa bulan untuk beradaptasi dengan medan jalan yang harus dilaluinya untuk berjualan krupuk setiap hari
Pada dasarnya mereka tidak inggin bahawa kondisinya sepeti ini namun takdir berhendak lain ada beberapa factor penyebab terjadinya tuna netra diantaranya: Pre-natal dan Post-natal. Pada siapa pun masyarakat untuk menangapi dan merangkul seseorang penderita tuna netra seperti bapak Agus dan ibu Sarinah ini cobalah untuk berprilaku kemanusian  kepadanya jangan malah memanfaatkannya, sekecil apapun bantuan anda untuk menolongnya itu akan ada balasannya.
Betapa banyak manusia diluar sana yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang tanpa dia sadari jikalau dirinya itu masih sangaat kuat untuk bekerja yang lebih layak dibandingkan dengan harus mengemis tapa keterbatasan apapun yang menimpanya. Hal ini patut dicontoh bagi para penderita penyakit turunan seperti ini karna keterbatasan bukan lah suatu kendala untuk mewujudkan niat dan mimpi mu.
Sumber :
http://beritabekasi.co/page/kanal/?id=4820&subid=58&kanal=sosok&alias=Kisah%20Sepasang%20Tuna%20Netra%20Menghidupi%20Keluarga&page=detil


Tidak ada komentar:

Posting Komentar